[INDONESIA-A] SERAMBI - Masjid Jami

From: apakabar@clark.net
Date: Wed Apr 30 1997 - 03:25:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id WAA07996 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Tue, 29 Apr 1997 22:08:33 -0400 (EDT)
Subject: [INDONESIA-A] SERAMBI - Masjid Jami' Saigon

Forwarded message:
From owner-indonesia-a@indopubs.com Tue Apr 29 21:59:20 1997
Date: Tue, 29 Apr 1997 19:57:51 -0600 (MDT)
Message-Id: <199704300157.TAA00552@indopubs.com>
To: apakabar@clark.net
From: indonesia-a@indopubs.com
Subject: [INDONESIA-A] SERAMBI - Masjid Jami' Saigon
Sender: owner-indonesia-a@indopubs.com

INDONESIA-A

X-URL: http://www.indomedia.com/serambi/9704/29/UTAMA/28uta3.htm

  Aceh dari Perspektif Tiga Negara Asean (6)
  
                     Air Mata Jatuh di Masjid Jami' Saigon
                                       
   JIKA saja pengalaman ini terjadi di kampung atau di tanah kelahiran,
   tentu hati saya takkan bergetar begitu hebat. Saya benar-benar tak
   dapat menahan keharuan manakala panggilan Allah berkumandang dari
   menara Masjid Jamiah Islamiyah Saigon untuk mengajak umat
   bersembah-sujud di waktu maghrib. Puncak keharuan saya adalah
   mengacanya butiran bening di indra penglihatan.
   
   Sungguh, saya tak coba-coba berlagak alim. Sepanjang hidup, inilah
   puncak keharuan saya mendengarkan azan. Bayangkan, sejak empat hari
   meninggalkan tanah air, saya tak sekalipun dapat mendengarkan azan,
   langsung dari menara masjid. Ditambah lagi, azan pertama yang saya
   dengar itu berkumandang dari masjid di negara yang saya kenal menganut
   paham komunis!
   
   Masjid Jamiah Islamiyah terletak di Jalan Nguyen Van Tranh, tak jauh
   dari pusat Kota Ho Chi Minh (dulu, Saigon). Masjid itu diapit
   gedung-gedung pertokoan. Jika saja kita tak cermat melihat ada kubah
   di atas, tentulah kita sulit menemukannya di tengah kesibukan kota
   terbesar di Vietnam itu. Di masjid ini, rombongan wartawan Aceh sempat
   melaksanakan empat kali shalat dengan "sistem" jamak-qashar. Ashar
   dengan zuhur, dan maghrib dengan isya. Ketika azan maghrib itu
   menggema di langit Allah, suasana Kota Saigon berada dalam puncak
   kesibukan. Ribuan bahkan puluhan ribu sepeda motor yang berlalu-lalang
   di Jalan Nguyen Van Tranh seolah menenggelamkan "merdunya" seruan
   Allah yang hanya diperkeras dengan mik Toa. Meski hanya sayup-sayup
   terdengar, tapi tak mengurangi hasrat muslim- Vietnam untuk memenuhi
   panggilan itu. Dan kami pun bersembahyang berjamaah dengan jumlah tak
   penuh satu shaf (18 orang).
   
  ***
  
   Yang menjadi pertanyaan, bagaimanakah sebenarnya kehidupan beragama di
   negeri yang berideologi komunis itu? "Sejak pemerintah menerapkan
   politik pintu terbuka di tahun 1986, kehidupan beragama tumbuh subur
   di sini. Pemerintah tak menghalangi warga untuk melaksanakan
   peribadatan sesuai agama masing-masing. Meskipun ideologi negara tetap
   komunis," kata Nguyen Cong Khe, pemimpin redaksi harian sangat
   berpengaruh milik partai, Thanh Nien. Ho Chi Minh City berpenduduk
   sekitar 5 juta jiwa, dengan mayoritas penganut Buddha. Sementara
   populasi masyarakat muslim di kota kosmopolitan Vietnam ini hanya
   berkisar 5.000-an orang dengan jumlah masjid delapan buah. Selain
   orang Vietnam asli, penganut Islam di sana kebanyakan adalah
   masyarakat keturunan. Mereka berasal dari campa (India), Arab, dan
   keturunan Indonesia. Warga yang disebutkan terakhir ini berasal dari
   Bawean (sebuah pulau kecil di utara Madura).
   
   Menurut informasi, jumlah warga Vietnam keturunan Bawean di Saigon
   sekitar 500 orang. Sebagai masyarakat yang teguh dengan agamanya
   orang-orang Bawean ini dikenal sebagai muslim yang taat, dan mereka
   memiliki masjid sendiri yang diberi nama Masjid Rahim. Masyarakat
   keturunan Bawean yang mulai berimigran ke Vietnam tahun 1880, tercatat
   pula sebagai penyebar agama Islam, termasuk dengan cara mengawini
   wanita Vietnam setelah lebih dulu diislamkan. Sayang, kami tak sempat
   bersembahyang di Masjid Rahim.
   
   "Meski mayoritas Budha, setahu saya pemerintah tidak pernah
   menghalang-halangi rakyatnya untuk mengubah keyakinan agamanya,
   seperti pindah memeluk Islam," kata Lam Tu Khoi, pemandu wisata kami.
   Apa yang dikatakan Khoi ini memang tidak berlebihan. Dari sejumlah
   jamaah Masjid Jami yang ditanya mengaku bahwa mereka diberi kebebasan
   untuk melaksanakan perintah agama. "Kami tak pernah merasa terganggu.
   Baik oleh pemerintah, maupun masyarakat di sini," kata Hasyim, pria
   berusia sekitar 60-an tahun.
   
   Dan sebagai masyarakat yang minoritas, masyarakat muslim disana pun
   sadar bahwa mereka tak mungkin terlalu leluasa dalam "memeriahkan"
   syiar agama, seperti kita di Indonesia. Bagaimana dengan pendidikan
   agama kepada anak-anak mereka? "Kita juga punya lembaga pendidikan
   agama. Lantai dasar masjid ini digunakan sebagai tempat belajar agama.
   Ya, cuma mekanismenya berjalan masih sangat sederhana," kata Hasyim.
   
   Dari tujuh muslim Vietnam yang ikut shalat maghrib berjamaah itu, tak
   seorang pun yang tahu di mana letak Aceh. Baru setelah disebutkan nama
   Indonesia, mereka mengangguk seolah mengerti. Menurut Hasyim, secara
   sosial-politik, peran masyarakat muslim di Saigon belumlah
   menggembirakan. Kebanyakan mereka masihlah bertumpu pada kehidupan
   bertani, dan berdagang kecil-kecilan. "Yang pegawai, boleh dibilang
   hampir tak ada. Saya tak tahu persis, kalau pun ada barangkali bisa
   dihitung dengan jari," katanya. Beribadat di Masjid Jamiah Islamiyah
   Saigon meninggalkan kesan yang sangat mendalam di batin saya. Jauh
   lebih dalam tinimbang ketika kami bersembahyang di Masjid Aupau, Pulau
   Phuket, Thailand. Sebab, antara Vietnam dan Thailand perbedaannya
   sangatlah jauh, baik dari segi ekonomi maupun "kemerdekaan" dalam
   melaksanakan ajaran agama.
   
  ***
  
   Lain suasana Masjid Jamiah Islamiyah, lain pula yang didapat secara
   riil di kota kosmopolitan Saigon, terutama di waktu malam. "Kehidupan
   bebas" sangat terasa di kota ini. "Kalau Anda mau, 'kupu-kupu'
   tersedia di setiap sudut jalan," kata Khoi coba menggoda. Kehidupan
   "cinta sesaat" ini memang tubuh subur di Saigon. Manakala matahari
   mulai tenggelam ke ufuk barat, Anda akan mudah melihat para wanita
   --rata-rata berparas cantik-- hilir mudik di jalanan. Mereka ada yang
   berjalan kaki, ada pula yang berkendaraan roda dua. Soal bahasa dalam
   proses tawar-menawar, bisa dilakukan dengan gerakan tangan. Oke? Bisa
   langsung menuju ke tempat yang dijanjikan! "Pemerintah memang tidak
   melokalisir mereka. Makanya, tempat kencan dikompromikan pada saat
   tawar-menawar," kata Khoi membuka rahasia. Maraknya prostitusi di
   Saigon, kata Khoi, berkaitan erat dengan tingginya persiangan dalam
   mendapatkan lapangan pekerjaan. Sehingga, banyak gadis-gadis Vietnam,
   terutama yang berubaninasi ke Saigon, terpaksa harus menjajakan diri
   meski usianya baru belasan tahun.
   
   Kondisi ini membuat Saigon, khususnya, rawan terhadap penyakit
   kelamin, termasuk virus HIV yang belum diketemukan obatnya itu. Bahkan
   menurut Institut Sosiologi Vietnam (VIS), begitu tinggi kecenderungan
   kawula muda Vietnam melakukan seks bebas, mengantarkan negeri itu
   sebagai yang tertinggi di dunia dalam bidang pengguguran kandungan.
   "Hampir 40 persen kehamilan, digugurkan karena sebab tersebut," lapor
   VIS seperti yang dikutip majalah Time Out. Memang, tak dapat dibantah
   bahwa Vietnam adalah salah satu "surga" di dunia bagi penikmati seks.
   Namun, Khoi telah memberi warning dengan mengatakan, "Ada tiga cara
   kami mengalahkan Amerika. Pertama dengan bergerilya. Kedua, dengan
   candu. Ketiga, ya dengan perempuan!" Kita nggak tahu apa yang ingin
   dicapai Vietnam dengan maraknya prostitusi yang dijajakan kepada para
   turis yang datang ke negerinya. Pokoknya, berhati-hatilah!=