SI - Bob, Operator Dana Presiden

From: apakabar@clark.net
Date: Mon Mar 24 1997 - 13:51:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id RAA03110 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Mon, 24 Mar 1997 17:50:53 -0500 (EST)

Suara INDEPENDEN, No. 4/III/Februari 1997
EKONOMI - Halaman 31-32

BOB, OPERATOR DANA PRESIDEN
Tanpa hambatan, Bob Hasan berhasil menguasai Astra, Freeport dan tambang
emas Busang. Tetapi, dia tidak lebih dari tukang yang menggemukkan kantong
Soeharto.
-----------------------------

Tepuk tangan menggemuruh ketika The Kian Seng alias Mohammad Hasan atau yang
lebih populer dipanggil Bob Hasan, disetujui menjadi Presiden Komisaris PT
Astra International, pertengahan Februari. Dengan demikian, Bob akan lebih
leluasa mengarahkan jalannya konglomerat terbesar kedua di negeri ini.
Pengukuhan dirinya sebagai penguasa Astra hanya selang sehari setelah
pemerintah mengumumkan raja hutan itu menjadi pemenang dalam perebutan
tambang emas Busang.

Decak kagum dan sinisme membaur menjadi satu. Kagum karena dalam waktu
kurang dari enam bulan, Bob bisa menggusur pengusaha-pengusaha pemegang
saham Astra, Freeport dan mendongkel Barrick sebagai calon investor di
Busang. Sinisme muncul mempertanyakan dari mana dalam waktu singkat ia
memperoleh dana segar hampir Rp 5 triliun untuk memenuhi ambisinya itu.

Bagi Bob Hasan, agaknya tidak ada yang mustahil. Semuanya bisa dilakukan dan
pasti berhasil. Ini dibuktikannya sejak awal dasawarsa 1980-an, ketika
bisnis kayu lapis dan hasil hutan menjadi primadona ekspor nonmigas
Indonesia. Ketika itu, dia membentuk Asosiasi Panel Kayu Indonesia
(Apkindo). Dan, dia tidak sekedar membentuk wadah pengusaha perkayuan saja,
tetapi juga mengatur perdagangannya. Sehingga, wajar kalau pada waktu itu
banyak yang mengatakan Bob Hasan adalah Menteri Kehutanan bayangan. Ia pun
lebih populer ketimbang Sudjarwo maupun Hasjrul Harahap. Para pengusaha yang
memegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) beserta industrinya, tidak berkutik
dengan segala langkah dan keputusan yang dibuat Bob. Banyak industri kayu
yang rontok akibat ulahnya.

Dengan masuknya Bob Hasan, pengusaha kelahiran Semarang tahun 1931 itu,
berarti rampung sudah skenario Soeharto untuk menguasai tambang emas Busang,
Astra dan Freeport. Sebenarnya, semua orang tahu, bahwa sejak ribut-ribut
soal investor yang akan menggali emas di perut bumi Busang Tenggara itu,
keluarga Soeharto sudah memperlihatkan ambisinya.

Semula Sigit Hardjojudanto langsung menempel Bre-X dan membuat kesepakatan
sebagai mitra lokal. Melihat besarnya kekayaan yang bisa diraup dari Busang,
Siti Hardiyanti Rukmana alias Tutut, tidak mau kalah. Wanita cantik yang
jarang bicara itu, langsung menyambut tawaran Barrick, perusahaan tambang
emas yang juga berasal dari Kanada, untuk mendirikan perusahaan patungan
dengan harapan bisa ikut menikmati kekayaan mineral di Kalimantan Timur itu.

Akibatnya, muncul konflik yang tajam antara Sigit dan Tutut. Melihat
perpecahan keluarga yang semakin runcing, agaknya Soeharto khawatir.
"Soeharto merasa khawatir dengan masa depan putera-puterinya dan apapun
tindakan yang dia lakukan sekarang ini, pasti untuk anak-anaknya," kata
seorang eksekutif asing yang dikutip Business Week.

Sebagai jalan keluarnya, dimunculkanlah Bob Hasan, anak seorang pedagang
tembakau. Dan, Bob sebagai operator mesin uang Soeharto, bak kerbau dicucuk
hidungnya, menurut saja kemauan sang patron.

Keputusan pemerintah soal investor proyek tambang emas itu aneh, memang.
Pada 17 Januari lalu, pemerintah memberikan waktu sebulan kepada Bre-X dan
Barrick untuk memberikan jawaban mengenai mitra lokalnya. Tetapi, belum
sebulan batas waktu berakhir, di Jakarta sudah berkembang rumor, bahwa Bob
Hasan dipastikan masuk bersama Freeport-McMoran. Rumor itu ternyata benar.
Sehari, sebelum batas waktu berakhir, seluruh media di tanah air sudah
mendapat bocoran yang kemudian dimuat keesokan harinya. Lebih aneh lagi,
ketika seluruh surat kabar memuat masuknya Bob dan Freeport, Menteri
Pertambangan baru menyampaikan keputusan pemerintah mengenai proyek tambang
emas itu. Bob lebih kuat dari Menteri Pertambangan, agaknya.

Menteri Pertambangan I.B. Sudjana dalam keputusannya mengenai pertambangan
emas Busang, yang isinya persis pemberitaan media massa sebelumnya,
menyebutkan pemerintah dan swasta nasional menguasai 55% saham dan sisanya
milik Bre-X. Pimpinan Bre-X Minerals, David G. Walsh mengungkapkan, bahwa
pihaknya telah membuat kesepakatan dengan Bob Hasan selaku wakil Indonesia
dan Freeport-McMoran Cooper and Gold membentuk Busang Indonesia Gold JV.
Komposisi sahamnya 45% dikuasai Bre-X, Bob Hasan melalui dua perusahaan (PT
Askatindo Karya Mineral dan PT Amsya Lyna) memiliki 30%, Freeport-McMoran
mendapat 15% dan pemerintah hanya kebagian 10%.

Kesepakatan masuknya Nusamba dan Freeport-McMoran mendampingi Bre-X
sebenarnya telah dibuat Januari lalu. Indikasinya bisa dilihat ketika Bakrie
'menjual' PT Indocooper Investama yang memiliki 9,3 persen saham di PT
Freeport Indonesia, kepada Bob Hasan. Walaupun Aburizal Bakrie _bos
Bakrie_ berkilah dirinya tak ditekan oleh Soeharto untuk melepas sahamnya di
Freeport, namun kalangan asing yakin telah terjadi pemaksaan dalam
pengalihan saham tersebut. Pertengahan Januari lalu, Bob dipanggil Soeharto
untuk membicarakan soal perebutan Busang dan pengambilan PT Indocooper.
Selang sehari, giliran I.B. Sudjana menghadap Presiden.

Tetapi, posisi Bob sebagai penengah dalam mengatasi konflik di keluarga
Cendana, ternyata tidak disukai oleh anak-anak Soeharto. Walaupun sudah
puluhan tahun menjadi gembala dari domba-domba perusahaan Soeharto,
seringkali dia bentrok dengan keluarga terkaya di dunia ini. Misalnya dengan
Bambang Trihatmodjo, Sigit dan Tutut. Jadi, anggapan Christianto Wibisono
yang menilai Bob Hasan sebagai paman yang baik yang memahami masalah
anak-anak Cendana dan bisa mengakomodasikan konflik dan kompetisi bisnis,
tak sepenuhnya benar. Memang, anak angkat Jenderal Gatot Subroto itu,
termasuk tiga "Oom" yang paling bebas keluar masuk Cendana tanpa melalui
protokoler, bersama Liem Sioe Liong dan Sutikno Wijoyo. Dan, ketiga Oom
tersebut sama-sama keturunan Tionghoa yang sudah menjalin hubungan dagang
dengan Soeharto ketika ia masih menjadi Panglima Teritorial IV Dipongoro
tahun 1950-an.

Mengenai masuknya Bob ke Astra, kabarnya juga atas permintaan Soeharto,
setelah Bambang dan Tommy Soeharto bertengkar habis-habisan. "Mereka
berkelahi memperebutkan fasilitas mobil nasional," tulis BusinessWeek.
Sebagai jalan keluarnya, PT Nusantara Ampera Bhakti (Nusamba), yang sahamnya
80% dikuasai yayasan presiden, mengucurkan dana hampir Rp 4 trilun untuk
membeli 8% saham Astra.

Dibalik pembelian saham Astra oleh Nusamba, agaknya tersembunyi niat
Soeharto untuk menguasai bisnis otomotif. Lihat saja bisnis otomotif yang
sudah dimiliki Bambang Trihatmodjo (Hyundai, Mercedez), Siti Hardiyanti
Rukmana (Daewoo, Ford, Proton), Tommy (Timor). Niat Soeharto itu mulai
kelihatan ketika Liem Sioe Liong masuk ke Astra dan kemungkinan besar akan
terjadi aliansi Astra dan Indomobil, paling tidak pada akhir tahun ini.
Agaknya, presiden berpacu dengan waktu untuk menguasai semua sektor ekonomi
kita.