IN: PMB - Mampukah KA Bawah Tanah M

From: apakabar@clark.net
Date: Tue Feb 18 1997 - 07:20:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id LAA08571 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Tue, 18 Feb 1997 11:06:41 -0500 (EST)
Subject: IN: PMB - Mampukah KA Bawah Tanah Mengatasi Kemacetan Di Jakarta?

Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Tue Feb 18 09:15:21 1997
X-Authentication-Warning: igc7.igc.org: Processed from queue /var/spool/mqueue-maj
Content-Type: text/plain; charset="us-ascii"
Date: Wed, 19 Feb 1997 00:42:56 +1100 (EST)
From: indonesia-p@igc.apc.org
Message-Id: <1.5.4.16.19970218205333.1ca7e334@ozemail.com.au>
Mime-Version: 1.0
Subject: IN: PMB - Mampukah KA Bawah Tanah Mengatasi Kemacetan Di Jakarta?
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: Windows Eudora Light Version 1.5.4 (16)
X-Sender: apakabar@ozemail.com.au (Unverified)
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk

INDONESIA-P

18 Februari 1997
   SUARA PEMBARUAN ONLINE
     _________________________________________________________________
                                      
   
   Charles Ulag
   
   BERGANTUNGAN - Dalam mengatasi permasalahan angkutan umum di Jakarta,
   penggunaan kereta api sangat menolong karena kereta api mampu
   mengangkut penumpang secara massal. Kendati begitu, kereta api pun
   seringkali harus mengangkut penumpang berlebihan, malah sebagian
   terpaksa bergantungan di pintu kereta. Atau, pada saat kereta
   berhenti, berjubel penumpang yang akan naik.
   
Mampukah KA Bawah Tanah Mengatasi Kemacetan Di Jakarta?

   Dalam kondisi sekarang, Jakarta dengan penduduk sekitar 9 juta jiwa,
   mengalami kemacetan lalu lintas
   
   yang parah. Bagaimana di tahun 2000 yang jumlah penduduknya mencapai
   15 juta jiwa? Mau tidak mau, kehadiran moda transportasi angkutan umum
   massal, sangatlah diperlukan.
   
   Pengantar:
   
   Angkutan massal kereta api di Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi
   sampai saat ini baru bisa melayani sekitar 5 persen dari seluruh
   perjalanan. Jumlah ini secara berangsur akan dinaikkan hingga sekitar
   20 persen dari seluruh perjalanan. Target tersebut tertuang dalam
   Rencana Umum Tata Ruang (RUTR ) DKI Jakarta tahun 1985-2005.
   
   Berbagai langkah telah ditempuh untuk mencapai target itu, tetapi
   hasilnya belum maksimal. Kendaraan pribadi yang beroperasi hanya mampu
   melayani 7,5 persen dari seluruh perjalanan. Padahal jumlah kendaraan
   pribadi mencapai 86 persen dari jumlah angkutan umum.
   
   Peranan kereta api sebagai angkutan massal di masa mendatang akan
   ditingkatkan dengan membangun berbagai jaringan, baik itu di bawah
   tanah, melayang maupun di atas permukaan. Biaya untuk pembangunan
   memang sangat besar, oleh karena itu pemerintah menjalin kerja sama
   dengan pihak swasta. Angkutan massal yang murah, nyaman, aman, lancar
   berupa angkutan kereta api, masih tetap menjadi impian. Sehubungan
   dengan masalah tersebut, wartawan Pembaruan, Susana Kurniasih dan Is
   Surotho menurunkan tulisan di bawah ini.
   
   - Redaksi
   
   Jaringan kereta api di Jakarta saat ini terdiri dari 3 rute utama yang
   melingkari pusat kota dan 4 rute radial yang merupakan rute antarkota
   yakni Tangerang (Barat), Serpong (Barat Daya), Depok/Bogor (Selatan)
   dan Bekasi (Timur). Sistem dalam kota Jakarta meliputi jaringan
   sepanjang 47 km dan sistem antarkota meliputi 48 km termasuk lintas ke
   Tanjungpriok.
   
   Peranan kereta api akan ditingkatkan sehingga dapat mengangkut 100.000
   perjalanan selama periode dua jam padat. Dengan diberlakukannya
   kebijakan pembatasan lalu lintas, diharapkan jumlah ini akan meningkat
   menjadi 200.000 perjalanan atau 10 persen dari jumlah perjalanan
   angkutan umum. Sisanya, 935.000 perjalanan, akan dilayani angkutan
   umum jalan raya terutama bus kota.
   
   Untuk masa mendatang angkutan kereta api akan menjadi angkutan
   alternatif yang menarik bagi penduduk yang bertempat tinggal di
   sekitar jaringannya dan terutama bagi penduduk dari Botabek. Untuk
   menunjang angkutan umum dengan kereta api, perlu diambil kebijakan
   seperti menyediakan pelayanan bus ke stasiun kereta api.
   
   Selain itu, penyediaan fasilitas untuk pergantian kendaraan pada
   stasiun kereta api yang strategis. Mendorong pengembangan kegiatan
   komersial di daerah sekitar terminal-terminal kereta api utama.
   Meningkatkan keterpaduan sistem kereta api kota dan kereta api
   antarkota dan meningkatkan pelayanan dengan menambah jalur-jalur baru.
   
   Bentuk angkutan umum lainnya seperti taksi, opelet, mikrolet dan
   bajaj, memang memegang peranan cukup penting saat ini. Umumnya
   kendaraan jenis itu, melayani daerah-daerah di mana tidak disediakan
   prasarana dan sarana transpor yang besar.
   
   Dengan peningkatan kepadatan dan prasarana transportasi daerah
   tersebut melalui program perbaikan kampung dan perbaikan kondisi
   ekonomi, diperkirakan peranan jenis angkutan tersebut akan mengecil
   pada tahun 2005, kecuali taksi.
   
   Kebijakan yang berkaitan dengan jenis angkutan dimaksud adalah
   meningkatkan peranan taksi dalam hubungan dengan pembatasan penggunaan
   mobil pribadi, mengarahkan angkutan bus kecil seperti colt, mikrolet
   untuk memberikan pelayanan pada jalur-jalur yang membutuhkan kendaraan
   berkapasitas kecil, menyediakan pelayanan yang terpadu dengan angkutan
   bus dan kereta api, dan mengembangkan daerah bebas bajaj.
   
   Pribadi
   
   Jumlah kendaraan pribadi berdasarkan data yang ada pada Ditjen
   Perhubungan Darat mencapai 86 persen dari seluruh jumlah kendaraan
   yang beroperasi. Kendaraan pribadi sebanyak itu, hanya bisa mengangkut
   sekitar 7,5 persen dari seluruh perjalanan penumpang. Sisanya sekitar
   90 persen dilayani oleh bus, kereta api dan jenis angkutan umum
   lainnya. Sedangkan angkutan laut dan udara hanya bisa melayani sekitar
   2,5 persen dari seluruh perjalanan penumpang.
   
   Dalam kaitan inilah maka Ditjen Perhubungan Darat bertekat untuk
   meningkatkan pelayanan dengan sebaik-baiknya, selancar-lancarnya,
   senyaman-nyamanya dan seaman-amannya kepada pengguna angkutan umum.
   Untuk mewujudkan semua itu, khususnya bagi warga yang tinggal di
   Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi, akan segera disediakan
   transportasi massal berupa kereta api bawah tanah dan kereta api
   listrik.
   
   Kereta api di wilayah ini, sekarang baru bisa melayani sekitar 300.000
   orang. Di masa mendatang akan ditingkatkan menjadi 1,6 juta orang atau
   sekitar 16 hingga 20 persen dari seluruh perjalanan. Dengan demikian,
   peranan bus besar masih tetap tinggi.
   
   Pada saat penduduk Jabotabek berjumlah sekitar 35 juta jiwa, peranan
   angkutan massal berupa kereta api akan sangat dominan. Untuk membangun
   kereta api bawah tanah atau kereta layang, tidak sesulit membangun
   jaringan jalan karena tidak perlu membebaskan tanah secara
   besar-besaran yang akan menguras dana yang begitu banyak.
   
   Ditjen Perhubungan Darat memperkirakan seluruh jaringan jalan kereta
   api, baik bawah tanah maupun layang, akan selesai dibangun tahun 2004.
   Pada saat itu pulalah kepadatan lalu lintas di Jakarta juga akan
   berkurang karena selain masyarakat yang akan menggunakan kereta aqpi
   kian meningkat, jumlah persimpangan kereta api yang selama ini sering
   dituding sebagai biang kemacetan lalu lintas, juga tidak akan ada
   lagi.
   
   Lintasan kereta api ini berjumlah 23 titik, ujar Dirjen Hubdar,
   Soejono. Namun dia berharap dalam pembangunan kereta layang itu,
   jangan sampai menciptakan pemandangan sarang laba-laba karena hal ini
   juga akan mengurangi keindahan pemandangan kota.
   
   Bawah Tanah
   
   Sementara itu, satu jalur rel kereta listrik (KRL) yang akan berada di
   antara jalan biasa dan jalan layang (tol), juga akan dibangun oleh PT
   Lamtoro Gung. Pembangunan proyek yang menurut penghitungan sementara
   bernilai 800 juta dolar AS itu, akan dilaksanakan bersamaan dengan
   proyek kereta api bawah tanah (subway) pertama di Jakarta.
   
   Rencana pembangunan KRL layang ringan itu, disampaikan oleh Menteri
   Perhubungan Haryanto Dhanutirto seusai melapor kepada Presiden
   Soeharto di Istana Merdeka Jakarta baru-baru ini. Angkutan massal itu
   akan menempuh jalur Cinere - Lebakbulus - Pondokindah - Arteri
   Pondokindah - Pasar Kebayoranlama, semuanya di kawasan Jakarta
   Selatan.
   
   Di sekitar Pasar Kebayoranlama, rel KRL layang ringan menurun dan
   bersambung dengan rel yang sudah ada di jalur Serpong - Bintaro -
   Palmerah - Tanahabang. Demikian juga halnya jalan layang tol, yang
   akan bersambung dengan jalan layang yang sekarang sedang dibangun di
   perempatan Simprug.
   
   Menteri Perhubungan akan memberikan kesempatan kepada KRL layang
   ringan untuk menggunakan jalur Tanahabang - Jatinegara. Dengan
   demikian, stasiun Dukuhatas akan dimanfaatkan secara optimal lagi.
   
   ''Untuk proyek KRL layang ringan ini, pemerintah tidak perlu
   mengeluarkan dana apa pun. Bahkan Menhub sudah meminta PT Lamtoro Gung
   agar Perumka diberi equity karena Perumka-lah yang akan mengoperasikan
   KRL layang ringan ini,'' katanya.
   
   Menyangkut proyek kereta api bawah tanah (subway), menurut Menhub,
   dewasa ini masih digarap rancangan dasarnya oleh Pemda DKI Jakarta.
   Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Surjadi Soedirdja mengatakan,
   pembangunan subway di Jakarta tetap diprioritaskan pada jalur Blok M -
   Kota.
   
   ''Kalau ada rute subway lain seperti Cinere - Kota atau menyambung ke
   Bandara Soekarno Hatta, itu menyusul,'' ujarnya. Yang jelas prioritas
   utama subway masih jalur Blok M - Kota.
   
   Pemda DKI masih menunggu keputusan pemerintah pusat tentang siapa
   investor yang terpilih untuk menanamkan modalnya membangun subway Blok
   M - Kota. Pembangunan jalan layang dan kereta layang, kata Surjadi
   hendaknya dikaitkan dengan keindahan kota.
   
   Tahun 1998/1999, Pemda DKI Jakarta berupaya mengembangkan kereta api,
   untuk memenuhi kebutuhan transportasi di dalam kota. Pertimbangan
   mengembangkan jenis transportasi massal ini, selain dapat mengangkut
   banyak orang dalam satu kali perjalanan, juga dianggap dapat
   mengurangi masalah kemacetan.
   
   Stasiun
   
   Karena keterbatasan lahan, Pemda berencana membuatnya di bawah
   permukaan tanah dan mengembangkan model subway seperti di negara maju
   lainnya. Sedangkan Citra Lamtorogung juga berupaya mengantisipasi
   kebijakan tersebut dengan rencana penambahan jalur kereta api dalam
   kota di permukaan tanah. Jenis kereta yang dikembangkan grup ini
   adalah jenis kereta api ringan, atau yang biasa di sebut Light Rail
   Transit (LRT).
   
   Sebagai langkah awal, subway memilih jalur Blok M - Kota. Alasan
   pengambilan rute ini, menurut staf ahli dari Mass Rapid Transport
   (MRT), Ir Hasan Basri beberapa waktu lalu, karena selama ini kemacetan
   tertinggi berada di ruas jalur tersebut. Angka kerugian yang
   diakibatkan oleh kemacetan di ruas jalan tersebut mencapai 200 juta
   dolar AS per tahun.
   
   Pada jalur itu, pemerintah akan menempatkan 17 stasiun terminal
   pemberhentian. Adapun lokasi stasiun pada jalur sepanjang 14,7
   kilometer tersebut direncanakan dimulai dari Jalan Panglima Polim,
   Blok M, Sisingamangaradja, Senayan, Istora, Bendungan Hilir,
   Setiabudi, Dukuh Atas, Bundaran Hotel Indonesia, Sarinah, Monumen
   Nasional, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, Kota dan
   berakhir di Kalibesar (Lodan).
   
   Jika proyek ini selesai dan berhasil dengan baik, menurut Pemda DKI
   Jakarta maupun pemerintah pusat, maka proyek akan dikembangkan di
   seluruh Indonesia, dengan jalur sepanjang 280 kilometer.
   
   Sementara pembangunan LRT yang akan menjadi satu paket dengan proyek
   triple decker pun nyaris mengambil rute yang sama. Khusus untuk proyek
   LRT-nya, rute yang akan ditempuh adalah Bintaro - Kebayoran Lama -
   Tanahabang - Harmoni - Kota - Junction Harbour Road.
   
   Akibat rute yang hampir sama, banyak orang membandingkan kedua proyek
   tersebut, mana yang lebih menguntungkan dan yang tidak. Namun Menteri
   Pekerjaan Umum, Ir Radinal Moochtar beberapa waktu lalu mengatakan,
   kedua proyek itu sangat diperlukan Jakarta. "Kalau keduanya dapat
   direalisasikan, tentu akan lebih baik lagi, sebab masyarakat mempunyai
   banyak pilihan," ujar Radinal.
   
   SSubway memang suatu sarana yang mendesak. Bisa dibayangkan, dalam
   kondisi sekarang dengan jumlah penduduk sekitar 9 juta jiwa saja sudah
   mengalami kemacetan lalu lintas parah. Apalagi di tahun 2000, yang
   diperkirakan jumlah penduduk DKI mencapai sekitar 15 juta jiwa.
   
   Jadi, mau tidak mau kehadiran moda transportasi angkutan umum massal,
   akan sangat diperlukan untuk mengurangi kemacetan lalu lintas. Untuk
   sebuah kota dengan jumlah penduduk sekitar 6 juta jiwa saja, sudah
   seharusnya tersedia angkutan umum massal, apalagi kota seperti
   Jakarta.
   
   Penumpang
   
   Jika kedua jalur impian ini sudah jadi, maka menurut Hasan Basri,
   setidaknya MRT ini bisa mengangkut 1.000 penumpang dalam satu kali
   perjalanan. Jika diandaikan kereta tersebut akan lewat setiap dua
   menit, berarti dalam satu jam moda transportasi ini dapat mengangkut
   30.000 penumpang per arah, atau 60.000 penumpang per jam (untuk dua
   arah).
   
   Padahal subway ini direncanakan akan beroperasi selama dua jam. Dengan
   demikian, jika ritme perjalanannya seperti di atas, berarti dalam satu
   hari kereta api itu dapat mengangkut 1.080.000 penumpang,
   pergi-pulang.
   
   Dalam perkembangannya nanti, kemampuan MRT akan ditingkatkan. Dalam
   setiap dua menit, MRT dijadualkan mengangkut 1.800 penumpang, atau
   54.000 penumpang per jam per satu arah.
   
   "Kita belajar dari negara tetangga. Lihat saja Tokyo. Tahun 1927, kota
   padat di Jepang ini hanya membangun 1,5 km lintasan subway. Sekarang
   jalur tersebut sudah menjadi 200 km. Hasilnya 70 persen penduduk kota
   yang berjumlah 30 juta itu menggunakan sarana yang ada dengan aman,"
   katanya.
   
   Pada proyek LRT (Kereta layang ringan) yang dikombinasikan dengan
   jalan tol tersebut, diusulkan dengan sistem kerja sama berupa BOT
   (Build-Operation-Transfer). Untuk jalan tolnya berada pada lantai
   teratas terdiri dari 6 lajur dan dua arah (jalan tol itu akan setinggi
   10 meter dengan lebar 30 meter). Kemudian lapis bawahnya untuk LRT
   dengan dua arah. Dan lantai dasarnya merupakan jalan arteri.
   
   Secara keseluruhan panjang LRT akan mencapai 23,7 kilometer dan
   dilengkapi dengan 22 buah stasiun. Sedangkan untuk jalan tol dari JORR
   seksi W2 akan dilengkapi dengan 14 pintu gerbang tol yang menggunakan
   sistem terbuka.
   
   Jalan tol yang merupakan bagian dari triple decker itu didesain dengan
   kapasitas 100.500 satuan mobil penumpang per hari. Sementara LRT yang
   pembangunan fisiknya akan dimulai 21 April mendatang, direncanakan
   mengangkut penumpang sebanyak 25.000 penumpang per jam per dua arah.
   
   Tarif
   
   Tentang ongkosnya, Wakil Gubernur Bidang Ekbang, Ir Tubagus Rais
   mengatakan, retribusi yang akan ditetapkan Pemda DKI Jakarta untuk
   subway sekitar Rp 1.100. Biaya tersebut belum terhitungkan inflasi
   yang terjadi saat proyek tersebut difungsikan. Kalau dengan
   memperhitungkan inflasi selama lima tahun mendatang, sebesar angka
   yang disebut Hasan Basri, maka tarifnya tak lebih dari Rp 2.000 (untuk
   tahun 2001 mendatang).
   
   Penetapan harga tiket tersebut berdasarkan survei yang telah dilakukan
   konsorsium yang terlibat dalam proyek tersebut. ''Survei tersebut
   dilakukan mulai Oktober 1995, dengan cara wawancara dari kantor satu
   ke kantor lain, sehingga kami memperoleh gambaran tentang kemampuan
   masyarakat calon pengguna MRT tersebut, sesuai data terbaru,'' ujar
   Rais.
   
   Dalam mengusahakan agar tarif subway terjangkau masyarakat, Pemda DKI
   Jakarta mengadakan beberapa terobosan. Antara lain menyangkut
   negosiasi yang dilakukan Pemda DKI dan pihak konsorsium.
   
   Gagasan untuk menyediakan alat angkutan massal yang cepat dan nyaman
   seperti kereta api bawah tanah, agaknya sudah menjadi keharusan di
   kota metropolitan Jakarta. Apalagi karena kemacetan lalu lintas
   diakibatkan oleh jumlah kendaraan yang beroperasi tak lagi sebanding
   dengan panjang jalan, sudah begitu parahnya sehingga kerugian yang
   ditimbulkan bukan sedikit.
   
   Namun, pengadaan kereta api bawah tanah dengan berbagai fasilitas
   kenyamanan yang jauh berbeda dengan fasilitas yang ada sekarang,
   menuntut pula tanggung jawab dan disiplin yang tinggi dari warga kota
   pengguna jasa tersebut. Pertanyaannya yang bakal timbul, siapkah warga
   kota menggunakan sarana yang canggih itu? Bukankah selama ini,
   terhadap fasilitas angkutan umum yang ada, terkesan betapa tak
   berdisiplinnya para pengguna jasa, menyebabkan pemanfaatannya tak
   tercapai secara optimal? ***
   
     _________________________________________________________________
                                      
   The CyberNews was brought to You by the OnLine Staff
     _________________________________________________________________
                                      
   Last modified: 2/18/97