IN: GATRA - Sang Petualang Melompat

From: indonesia-p@igc.apc.org
Date: Wed Nov 13 1996 - 22:19:00 EST


Subject: IN: GATRA - Sang Petualang Melompat Pulang

INDONESIA-P

[Logo GATRA]
Nomor 52/II, 9 November 1996

OBITUARI

Sang Petualang Melompat Pulang

Trisnoyuwono adalah ''juru bicara'' kaum tentara lapisan bawah. Fiksinya
yang kontekstual diilhami kisah-kisah nyata masa revolusi.

SEBUAH pesawat Hercules menderu-deru di angkasa Timor Timur. Lelaki itu, dan
lima temannya dari AVES Bandung - organisasi terjun payung tertua di negeri
ini - menghambur bersama empat penerjun TNI-AU. Beberapa detik berlalu, ia
membuka parasut. Mengembang sempurna. Tapi lelaki energetik itu masih sempat
iseng. Dili nun di bawah sana dipotretnya dengan kedua kakinya sebagai latar
depan. Waktu itu, 27 Januari 1989, ia telah 64 tahun, usia yang tak lagi
muda.

Lelaki itu, Mas Tris - begitu Trisnoyuwono dipanggil sahabat dekatnya -
telah pulang ke haribaan Allah, menjelang subuh, Selasa pekan lalu, di
kediamannya di Bandung. Sedikit di antara yang banyak tersisa bagi kita
adalah bait-bait tembangnya, sukaku di angkasa biru, dukaku di langit
kelabu, yang begitu sendu dinyanyikan Mang Iwan (Ompong) Bimbo.

Petualang berprofesi melompat-lompat itu: tentara, seniman, wartawan,
penerjun, dan pencinta alam, pergi bersama diabetes yang diidapnya tiga
bulan terakhir. Ia meninggalkan dua orang istri, Nyonya R. Sulasmi dan
Nyonya Amalia, serta tiga orang anak dan tujuh cucu. Tristian Wirawan,
putranya yang kedua, telah lebih dulu "pergi" tujuh tahun lalu, ketika
mereka terjun bersama dari angkasa Dili.

Kala itu Mas Tris sangat tegar melepas kepergian putranya. Beberapa hari
setelah kepergian Tristian, ia masih bisa menulis prosa indah di sebuah
majalah berita. "Aku akan pergi. Aku akan terbang tinggi sekali, bukankah
begitu kaukatakan pada kekasihmu," tulis Mas Tris. Mungkin etos itu yang
membuat keluarganya kini rela. "Kami merelakan kepergian Bapak," kata
Tristanti Mitayani, putri sulung Mas Tris, kepada Ida Farida dari Gatra.

Lahir pada 12 November 1925 di Yogyakarta, putra sulung dari tujuh
bersaudara itu, setamat SMA, aktif dalam Perang Kemerdekaan (1945-1950),
sebagai perajurit TNI-AL. Ia sempat pula melompat ke Korps Baret Merah
TNI-AD Siliwangi - cikal bakal Kopassus - hingga ia minta berhenti dengan
pangkat sersan mayor pada 1952. Ia beralih menjadi redaktur pelbagai majalah
sampai 1971. Akhirnya, ia menjadi wartawan Pikiran Rakyat, Bandung, dan
sebagai Wakil Pemimpin Penerbitan PT Granesia hingga akhir hayatnya.

Pengalamannya semasa revolusi sangat banyak membuahi karya-karya fiksinya.
Debutnya sebagai cerpenis muncul di Majalah Kisah pada 1953. Aspek
kemanusiaan amat menonjol dalam karyanya, terutama kisah tentang korban dan
akibat peperangan. Cerpennya yang tersebar kemudian dikumpulkan dalam
beberapa buku, antara lain Lelaki dan Mesiu (1957), yang memenangkan Hadiah
Sastra dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional, 1960.

Cerpen-cerpennya yang berkisah tentang revolusi dihimpun dalam beberapa
novel. Yang terkenal adalah Pagar Kawat Berduri (1961). Tak heran jika
pengamat sastra, Jakob Sumardjo, bak melantik Mas Tris sebagai "juru bicara"
kaum tentara melalui karya fiksi. Karena, meskipun militer sangat berperan
pada masa revolusi, juga setelah Orde Baru, baru dialah yang suka mengangkat
tokoh tentara dalam karyanya, khususnya dari lapisan bintara ke bawah.

Walaupun banyak bercerita tentang kekejaman perang dan kekerasan hidup di
kalangan militer, ia dapat menyajikan cerita-cerita yang mengagungkan
kemanusiaan. Pagar Kawat Berduri, yang diangkat sineas Asrul Sani ke layar
lebar, terasa humanis karena sorotannya yang tak bercorak hitam-putih. Kisah
itu mengungkapkan, ternyata tak semua tentara Belanda itu bengis. Ada juga
yang menyimpan belas kasih meskipun terhadap tentara Republik yang ditawan
Belanda.

Bertutur dengan gaya "aku", sang tokoh berhasil mengguncang pendirian
seorang komandan kamp berpangkat sersan, yang semula menganggap tentara
Republik hanyalah ekstremis yang harus ditumpas. Sang komandan bahkan
membelikan alat musik sehingga para pejuang yang ditawan itu bisa bernyanyi
diiringi harmonika dan ukelele. Bahkan si tokoh "aku" bersahabat dengan Pak
Sersan, dan sama-sama main catur pula. Padahal, pada masa sekarang saja,
masih terjadi seorang tersangka yang mati dalam tahanan karena dianiaya oleh
petugas.

Dalam cerpen Rancah, Mas Tris mengungkap betapa seorang kepala pasukan
sangat takut memandangi sorot mata aneh anak buahnya. Soalnya, ia baru saja
menembak seorang kepala regunya bertubi-tubi hingga mati. Alasannya, ia tak
tahan menyaksikan anak buahnya itu sekarat terkena pecahan meriam Belanda.
Kepalanya nyaris putus, dan kakinya mengais-ngais tanah. Ia tiba-tiba merasa
"sinar mata aneh" itu telah menuduhnya melampiaskan kesumat. Maklum, sudah
menjadi rahasia umum, si anak buah pernah memfitnahnya berselingkuh dengan
seorang istri lurah. Meskipun, itu cuma dusta.

Memang kritikus A. Teeuw menilai mutu sastra karya Mas Tris "tidak tinggi"
karena diangkat dari pengalaman empiris. Yah, sedikit di atas reportase
jurnalis. Ada pula yang menganggapnya sekadar "catatan harian" yang dikemas
dengan gaya pengarang Guy de Maupassant yang mahir mengikat pembaca,
mengasyikkan, dan mengagetkan. Cerpennya yang juga gemar berantiklimaks,
menurut Jakob, telah menjadikan kisahnya memberi makna lain.

Harus dikatakan pula, sedikit sekali pengarang kita yang menggubah kisah
nyata menjadi karya sastra. Satu di antara yang sedikit itu adalah Mas Tris.
Padahal, di sekitar kita banyak sekali peristiwa-peristiwa yang kerap
terjadi mirip fiksi, dan seolah tak kita percayai sebagai realitas. Pada
makna kontekstual inilah Mas Tris layak kita kenang.

Bersihar Lubis