IN: TIRAS - Guruh: Indonesia Ini Ne

From: merdeka@clark.net
Date: Wed Nov 06 1996 - 06:40:00 EST


From: INDONESIA-L <merdeka@clark.net>
Received: (from merdeka@localhost) by explorer2.clark.net (8.7.1/8.7.1) id KAA18253 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Wed, 6 Nov 1996 10:40:47 -0500 (EST)
Subject: IN: TIRAS - Guruh: Indonesia Ini Negeri Ajaib

Forwarded message:
From owner-indonesia-l@igc.org Tue Nov 5 06:54:19 1996
Resent-From: owner-indonesia-l@igc.org
Resent-Date: Tue, 5 Nov 1996 11:36:54 GMT
Date: Mon, 04 Nov 1996 21:09:10 -0500 (EST)
From: indonesia-l@igc.apc.org
Subject: IN: TIRAS - Guruh: Indonesia Ini Negeri Ajaib
Sender: owner-indonesia-l@igc.apc.org
Resent-to: owner-indonesia-l@igc.org
To: apakabar@clark.net
Resent-message-id: <01IBHJLTNFX08WVYPC@NJORD.FEK.SU.SE>
Message-id: <199611050209.VAA00209@access4.digex.net>
X-VMS-To: IN%"apakabar@clark.net"
MIME-version: 1.0
X-Mailer: ELM [version 2.4 PL25]
Content-type: text/plain; charset=US-ASCII
Content-transfer-encoding: 7bit
Precedence: bulk

INDONESIA-L

X-within-URL: http://www.indonesian-society.com/obrolan/guruh.htm
       ______________________________________________________________
                                      
     Guruh Soekarnoputra:
     Indonesia Ini Negeri Ajaib
       ______________________________________________________________
                                      
     [INLINE]
     
     Guruh Soekarnoputra bergabung dengan Golkar. Inilah berita besar
     yang dilansir media massa pekan-pekan terakhir ini. Benarkah?
     Berikut jawaban Guruh, ketika diwawancarai wartawan TIRAS Anang
     Aenal Yaqin, Hening Parlan, Suryansyah dan fotografer Firama
     Latuheru di kantornya, Jalan Wijaya I, Jakarta, Senin (28/10):
     
     Sebelum peluncuran kaset NTXTC di kafe Balemang, kabarnya sudah ada
     pertemuan antara Anda dengan pengurus Kosgoro.
     
     Ya, cuma ngobrol. Saling menanyakan kabar, gimana pengalaman. Gitu
     saja.
     
     Kabarnya, ketika itu Anda sudah menyatakan bergabung dengan
     Kosgoro.
     
     Secara gamblang nggak.
     
     Tapi akan bergabung.
     
     Bukan. Itu bukan berarti saya akan masuk Kosgoro.
     
     Anda didekati, dirayu untuk bergabung?
     
     Jauh sebelum itu juga banyak pihak yang mendekati saya. Bahkan di
     pemilu-pemilu yang lalu, dari Golkar -- saya lupa dari cabang atau
     daerah mana -- sudah mendekati. Bahkan juga oleh PPP sebelum tahun
     1992. Banyak pokoknya.
     
     Sejak kapan Anda didekati Kosgoro?
     
     Tahun 1989 saya ditawari, apakah mau bergabung dengan Kosgoro. Dan
     itu terbawa sampai sekarang. Yang menjadi kesimpulan saya bahwa
     teman-teman Kosgoro merasa senang kalau saya bergabung, dan mereka
     pun percaya saya akan merasa senang. Jadi sama-sama merasa senang.
     
     Siapa yang mengajak Anda ketika itu?
     
     Mas Hayono (Isman), pada saat belum jadi menteri.
     
     Sekarang Anda melirik Kosgoro?
     
     Saya belum menyatakan pilihan, tapi kebetulan teman-teman saya
     memang banyak di Kosgoro. Dan saya sudah beberapa kali berkegiatan
     bersama Kosgoro, tapi kan saya belum cerita tentang organisasi yang
     lain.
     
     Mengapa tidak dengan tegas memilih Kosgoro?
     
     Ini bukan hal yang sederhana. Ya, kita lihat saja selanjutnya,
     karena setiap menit bisa ada perubahan.
     
     Anda masih belum jelas, sementara di luar begitu ramai komentar
     tentang Anda. Pimpinan DPP PDI Soerjadi kaget dan akan memanggil
     Anda, Ketua Umum Golkar Bung Harmoko membuka pintu terhadap Anda.
     
     Paling tidak, alhamdulillah. Dari pernyataan-pernyataan itu, saya
     bisa tahu bagaimana Golkar, bagaimana PDI Soerjadi.
     
     Golkar itu bagaimana?
     
     Saya tidak mau kasih komentar. Hal ini agak berat karena menyangkut
     perasaan manusia.
     
     Apa karena masalah ini belum diselesaikan dengan DPP PDI?
     
     Bukan. Mungkin adil saja ya. Golkar, PPP, dan PDI, semua punya
     permasalahan, ada segi positifnya juga negatifnya. Nah, kalau saya
     memberi komentar, tidak cuma yang positif, tapi juga hal-hal yang
     bersifat negatif. Dan saya rasa, bukan pada tempatnya kalau saya
     kemukakan di sini. Kita semua bisa merasakan.
     
     Golkar kan sudah memberi lampu hijau. Kok, Anda tidak masuk?
     
     Saya tidak bisa mengatakan itu sekarang.
     
     Kalau dalam pemilu nanti Anda diminta jadi jurkam Golkar?
     
     Akan saya tampung, dan saya pertimbangkan sebaik-baiknya. Sejauh
     mana permintaan itu, karena bobot permintaan itu tidak sederhana.
     
     Anda punya konsesi tertentu, misalnya jadi caleg atau apa, sebelum
     bergabung dengan Golkar?
     
     Saya rasa dalam dunia politik semua itu wajar saja. Dalam hidup itu
     yang baik adalah simbiosis mutualisme, bisa saling memanfaatkan.
     Kita bilang manfaat bukan dalam konotasi negatif dimanfaatkan,
     namun bagaimana bisa saling memanfaatkan dalam konotasi positif.
     
     Proyeksi untuk jadi caleg?
     
     Menurut catatan saya, dalam rangka perjuangan saya, bukan untuk
     jadi caleg. Itu soal nanti. Kalau kebetulan saya dipercaya oleh
     rakyat oleh mekanisme tertentu, misalnya jadi caleg, saya terima
     itu semacam amanat yang harus diemban. Tapi tujuan saya masuk
     organisasi bukan untuk jadi caleg.
     
     Benarkah untuk itu Anda mau bergabung dengan Kosgoro?
     
     Nanti... seandainya sampai kejadian jadi anggota Kosgoro. Masuk
     saja belum, buat apa saya buru-buru ambil sikap 1 x 24 jam, karena
     ini bukan urusan main-main.
     
     Tampaknya hanya soal waktu Anda bergabung dengan Kosgoro dan
     Golkar.
     
     Tidak, ha... ha... ha... Karena bisa diambil langkah-langkah lain.
     
     Maksudnya?
     
     Ya, tidak seperti yang Anda perkirakan.
     
     Tapi, Anda sendiri sudah bicara dengan lantang, ``Saya siap
     di-recall dari F-PDI.'' Itu kan menunjukkan bahwa Anda sudah
     menyatakan permusuhan dengan DPP PDI Soerjadi.
     
     Bukan demikian. Untuk contoh, kalau Anda bekerja dan kemudian
     diberhentikan. Ya... alasannya apa, paling begitu. Kalau memang
     masuk akal, kita terima. Misalnya, dengan alasan perusahaan
     menjelang bangkrut, Anda di-PHK. Demikian juga saya, kalau
     di-recall sesuai dengan aturan atau prosedur yang berlaku, saya
     akan terima. Tapi kalau tidak sesuai, saya tidak terima.
     
     Kubu yang sah me-recall Anda siapa sih?
     
     Megawati.
     
     Anda tidak terima bila di-recall Soerjadi?
     
     Ya, nanti kita lihat jawabannya.
     
     Sebagai anggota F-PDI, Anda kan menjadi anak buah Soerjadi.
     Bukankah ini posisi tak enak bagi Anda?
     
     Mungkin, tapi kita harus melakukan sikap yang paling tepat.
     
     Anda akan mengundurkan diri sebelum di-recall?
     
     Saya belum bisa katakan sekarang. Di dunia ini kan memang penuh
     misteri.
     
     Kalau Soerjadi menanyakan tentang posisi Anda sekarang, apa jawaban
     Anda?
     
     Saya akan bilang, ``Lihat saja saya.''
     
     Banyak yang mengatakan bahwa kenaikan 16 kursi PDI di DPR Pusat
     pada Pemilu 1992 karena keterlibatan Anda dan Megawati. Benarkah
     itu?
     
     Pertanyaan itu harus dialamatkan ke Mbak Mega. Kalau yang
     diperbolehkan naik panggung adalah Pak Soerjadi, saya rasa
     perolehan (PDI) akan turun. Dalam arti, banyak yang merasa prihatin
     dan kurang bersimpati dengan adanya peristiwa ini.
     
     Kira-kira turun berapa persen?
     
     Saya tidak akan meramalkan dalam bentuk matematis, kira-kira naik
     atau turun. Kalau kita melihat Golkar, bahwa aparat pemerintah
     (Korpri) sudah masuk Golkar, dengan sendirinya untuk menghitung
     angka lebih mudah. Kalau PDI sulit dilihat. Secara teoretis, kalau
     PDI bisa bersatu lagi, mungkin bisa naik.
     
     Itu kan tidak mungkin lagi.
     
     Ya, ini berkaitan dengan eksistensinya Mbak Mega. Ini kan masih
     dalam tahapan-tahapan. Sekarang dalam proses pengadilan, meskipun
     orang akan berasumsi pasti di pengadilan akan kalah.
     
     Tidak cuma itu. Pemilu tinggal tujuh bulan lagi, dan sangat naif
     gugatan Mega bisa selesai dalam tempo secepat itu.
     
     Saya bilang, keadaan PDI sekarang tercabik-cabik, itu saja. Ya,
     sudah compang-camping.
     
     Jadi, bisa dipastikan, Anda dan Mega absen di atas panggung
     kampanye PDI nanti?
     
     Tidak, kalau begini. Tapi Indonesia ini kan negeri ajaib. Sesuatu
     yang tidak terpikir, bisa terjadi.
     
     Keajaiban dalam tujuh bulan ini?
     
     Dalam konteks pemilu tidak ada.
     
     Keajaiban menyatukan Mega dan Soerjadi?
     
     Itu nggak bisa diramal. Kalau dari perhitungan, saya rasa tidak.
     
     Ada yang mengatakan, sebaiknya Anda dan Mega bergabung saja dengan
     Soerjadi, agar massa PDI yang begitu besar tidak terombang-ambing.
     
     Tidak sesederhana dan semudah itu. Kalau Anda menjadi Megawati pun,
     Anda akan sulit. Salah-salah bisa dianggap menjilat ludah sendiri.
     Artinya, komitmennya sebagai pemimpin, dia harus memberikan
     keteladanan. Bahwa perjuangan ini adalah perjuangan demokrasi dan
     harus dijunjung tinggi, soal kebenaran dan keadilan. Ketika itu
     menjadi persoalan utama, ketika keadilan terusik, kebenaran
     tertutup. Masa, sebagai Megawati akan begitu saja? Dia kan punya
     beban moril kepada massa PDI.
     
     Seberapa besar massa Megawati dan Anda di daerah?
     
     Saya tidak bisa matematis, kita feeling saja. Massa itu ada di
     mana-mana di seluruh Indonesia, bahkan di dunia internasional.
     Ketika orang berpikir sehat dan mempunyai cukup nalar, saya rasa
     bisa mengerti apa yang namanya posisi Mbak Mega atau posisi yang
     diperjuangkannya itu.
     
     Yang disebut sebagai massa Anda dan Mega itu siapa sebenarnya?
     
     Saya rasa masyarakat PDI -- terlepas dari background apa saja --
     entah PNI, Murba, Partai Kristen. Tapi salah satu yang
     mempersatukan mereka di PDI adalah kecintaannya serta keterlibatan
     emosional terhadap figur Bung Karno. Bagaimanapun juga, saya dan
     Mbak Mega menyandang nama itu. Jadi secara psikologis, saya percaya
     banyak pihak merasa sakit hati, sehingga agak sulit meminta
     dukungan dari mereka.
     
     Secara geografis, mereka di mana? Jawa Tengah, Jawa Timur atau
     Bali, tempat suara PDI pada pemilu naik?
     
     Saya sendiri tidak pernah mengadakan jajak pendapat. Selain karena
     keterlibatan emosional dengan Bung Karno, juga karena adanya
     keberanian mereka untuk bersikap. Yang mencintai Bung Karno itu
     sedemikian banyak. Cuma ada yang tidak secara nyata menyatakan
     kecintaannya pada Bung Karno, karena persoalan security pribadi.
     Misalnya, orang-orang di Golkar, saya tahu banyak simpatisan Bung
     Karno.
     
     Di Golkar?
     
     Di Golkar, juga di PPP.
     
     Di Golkar, di mana? Jalur A, B, atau G?
     
     Ya, ini bicara hati. Tapi, terutama di birokrasinya dan di anak
     mudanya. Karena jadi pegawai negeri, aspirasi mereka disalurkan
     lewat Golkar. Mereka tidak bisa memilih PDI, dan tidak merasa aman
     kalau memilih PDI. Bung Karno tetap bersemayam di hati rakyat
     jelata, golongan bawah. Dan kenyataannya, di republik kita ini
     mayoritas adalah masyarakat yang miskin, jelata.
     
     Menurut Anda, dalam pemilu nanti mereka ke mana. Golput atau
     eksodus ke Golkar atau PPP?
     
     Justru itu yang nggak bisa diprediksi. Sekarang mungkin hanya bisa
     dikira-kira. Karena kalau dia mau sebagai partisipan, sebagai warga
     negara, eksodusnya bisa ke PPP atau Golkar. Tapi kalau dia tidak
     mau jadi partisipan, dia golput. Tergantung motivasinya apa. Kalau
     motivasinya bahwa tiga-tiganya tidak bisa dipercaya, mungkin
     golput. Mungkin hanya rame-rame ke TPS.
     
     Dengan kata lain, PDI Soerjadi akan gembos?
     
     Saya kira bukan gembos, tapi menurunlah. Kalau gembos itu
     konotasinya drastis. Secara teoretis demikian, tapi kan bisa jadi
     ada yang tak terduga.
     
     Ada yang mengatakan, ini strategi Anda dan Mega untuk menggembosi
     PDI Soerjadi.
     
     Ya, boleh saja, itu tinggal analisis. Saya nggak bisa kasih
     pernyataan apa-apa. Saya ingat pesan Bapak pada kami, seyogianya
     diperlukan moral dalam berpolitik. Orangnya harus bermoral. Kalau
     berpolitik tak bermoral itu politiknya kera-kera. Itu yang
     membedakan manusia dengan makhluk lain. Dan saya dalam berpolitik,
     memegang keteladanan ini. Kalaupun terjadi apa yang diasumsikan
     oleh banyak orang, bisa saja demikian. Tapi ketika saya melangkah,
     langkah saya tidak diawali dengan dendam atau perekayasaan yang
     disebabkan oleh dendam.
     
     Anda ingin mengatakan DPP Soerjadi tidak bermoral?
     
     Saya tidak mengatakan begitu. Itu lebih sebagai masukan bagi diri
     saya saja dalam membuat langkah-langkah politik.
     
     Kita kembali pada sasus eksodus Anda ke Kosgoro. Anda mengatakan
     kepada beberapa media bahwa yang Anda lakukan hanya menghindari
     pengkotak-kotakan. Tapi Anda sendiri masuk ke dalam kotak PDI.
     
     Saya sendiri dulunya berat hati masuk orpol. Karena dulu ada
     konsensus keluarga begitu, bahwa kita berdiri di atas semua
     golongan. Tapi kenyataan, sistem yang ada demikian, struktur
     demikian. Kalau kita nggak berbuat sesuatu, sampai masuk liang
     kubur, mungkin hanya begitu. Ya, nuraninya di semua golongan, tapi
     usaha-usaha konkretnya kurang jelas. Jadi, saya putuskan waktu itu
     memang, saya coba, bismillah, untuk masuk ke dalam partai. Saya
     sebagai warga negara Indonesia, sebagai pribadi, tidak suka dan
     prihatin dengan keadaan yang terkotak-kotak seperti sekarang.
     Mungkin suatu saat, kita semua dengan hati jernih dan jiwa besar,
     sistem ini harus berubah. Tiga orpol dengan asas yang sama, kalau
     dilihat dari sejarahnya, kan hanya mengakomodasi suatu keadaan
     transisi di awal Orde Baru. Pada saat berikutnya, timbul konsensus
     atau kesepakatan bersama untuk berada dalam satu asas. Kita sudah
     sampai pada tahap itu.
     
     Anda bayangkan, pada saat tertentu, hanya ada satu kotak?
     
     Mungkin ya, apakah kita harus begitu. Jadi masih harus mencari
     modus begitu, apakah kita harus dalam satu sistem kepartaian saja.
     Sebab negara yang maju seperti Amerika saja, masih menganut sistem
     kepartaian. Jadi Amerika pun dengan benang merah sejarahnya, sudah
     sedang berproses juga. Mungkin nanti di generasi apa, orang Amerika
     akan bilang, ini kan tinggalan masa lampau. Orang Indonesia,
     khususnya anak muda sekarang, sudah sama. Semuanya berada dalam
     asas Pancasila, semua ditanam jiwa demokrasi. Ketuhanan, semua
     beragama. SDM semuanya dituntut untuk menciptakan SDM yang sama,
     yang bermutu. Itu kan artinya menampung orang yang berpartai.
     
     Satu kotak yang Anda bayangkan itu seperti apa? Apakah Golkar,
     partai mayoritas yang tinggal digelembungkan lagi agar menjadi
     kotak besar?
     
     Kita lihat perkembangan. Bisa demikian, bisa juga tidak demikian.
     
     Kesadaran ini muncul sejak kapan? Sejak Anda terdepak dari PDI?
     
     Tidak. Sudah sejak lama.
     
     Anda masih punya obsesi menjadi presiden?
     
     Saya hanya mau memberikan warna pada demokrasi di negara kita.
     Itulah, mengapa dulu saya mendukung Soerjadi menjadi presiden.
     Sebagai partai demokrasi, PDI harus berani mengajukan diri menjadi
     calon. Dan pada surat saya kepada Soerjadi, surat pribadi saya yang
     ternyata bocor, saya bilang, ``Pak Soerjadi harus berani tampil,
     saya siap mendampingi.'' Ia harus berani, dan kalau ia tidak
     berani, saya akan siap mendampingi sebagai calon presiden. Ya,
     mungkin sebagai teman dicalonkan. Esensinya, negara ini adalah
     negara demokrasi, negara kedaulatan rakyat, bebas mengemukakan
     pendapat. Kalau kita punya calon, jangan takut-takut. Adapun soal
     kalah menangnya, itu soal nanti di Sidang Umum MPR. Tapi ternyata
     tak berani juga, bahkan surat saya kayaknya tak terlalu digubris.
     
     Siapa yang Anda jagokan sebagai presiden mendatang?
     
     Tidak ada.
     
     Pak Harto?
     
     Ya, beliau sudah sekian lama menjadi presiden, dan dari segi
     perikemanusiaan saya lihat beliau sudah tua. Namun semuanya
     tergantung pada yang bisa mengerti beliau. Karena kalau didaulat
     untuk memimpin atau mengemban tugas dari sekian banyak orang, akan
     sulit untuk menolaknya. Kalau secara pribadi, Pak Harto sebagai
     orang yang sudah tua, kita mulai harus memikirkannya. Bagaimana
     memperlakukan seseorang yang sudah lanjut usia, mungkin karena jiwa
     pengabdiannya, kalau didaulat tidak mudah untuk menolak. Tapi juga
     tidak mudah untuk menerima. Jadi begitulah sulitnya menjadi
     presiden, baik Soeharto maupun Soekarno.
     
     Benarkah Mega punya obsesi menjadi presiden?
     
     Alangkah bahagianya kita, kalau di negara ini ada yang bersedia
     jadi presiden. Artinya ada banyak tunas. Kita wajib sebagai bangsa
     punya tunas, untuk mempersiapkan diri menjadi pemimpin.